Liputan

Belanja Melalui Honestbee di Museum Tekstil & Demo Masak Mas Jun

Chief Jun Joe Winanto (foto Nur Terbit)
Chief Jun Joe Winanto (foto Nur Terbit)
Ditulis oleh Bu Guru Siti

Rasanya baru kali ini selama saya aktif menjadi blogger, bisa rekreasi di museum sambil berbelanja online sekaligus demo masak sambil “icip-icip” masakan. Itulah terjadi saat mengikut acara kopi darat (kopdar) yang dihadiri kurang lebih 100 orang blogger  pada Minggu, 26 Pebruari 2017 yang lalu.

Tuan rumah sebagai pihak pengundang adalah Kriya Indonesia, bekerjasama dengan Museum Tekstil Jakarta dan jasa pengantar Honestbee. Acara berlangsung di Gedung Museum Tekstil Indonesia Jalan. Ks Tubun No. 2-4 Jakarta Barat, tepatnya di belakang Pasar Tanah Abang.

Acara  ini sebenarnya menurut saya, unik dan keren karena dikemas dengan bentuk rekreasi di museum, sambil berwisata belanja sekaligus demo masak. Wah….ibarat kata pepatah, “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui”.

Wajarlah kalau acara ini sukses, karena penyelenggaranya cukup kreatif

Saya atas nama blogger mengucapkan terima kasih kepada para sahabatku Mba Astri Damayanti, Sally Fauzi

Peralatan dan bumbu yang digunakan mengolah Ayam Rica-rica racikan Chief Jun Joe Winanto (foto Nur Terbit)

Peralatan dan bumbu yang digunakan mengolah Ayam Rica-rica racikan Chief Jun Joe Winanto (foto Nur Terbit)

dan Jun Joe Winanto yang telah mengundang kami (Bunda Sitti Rabiah dan Bang Nur Terbit) sebagai blogger berpasangan. Tak lupa juga terima kasih kepada sahabatku Tanti Amelia yang begitu ceria dan familiar menyambut kami di acara ini.

Museum Tekstil Indonesia seketika itu ramai dan riuh karena kehadiran kurang lebih 100 orang blogger. Kegiatan wisata belanja sekaligus berkeliling museum ini sangat menarik, disamping melihat-lihat berbagai jenis batik juga ada demo masak.

Sebelum kami para blogger berkeliling museum ini, kami dipersilahkan terlebih dahulu berwisata belanja online bersama Honestbee.

Awalnya Saya dan suami agak kesulitan berbelanja di online ini karena paket data pulsaku habis pada saat acara berlangsung.

Begitupun dengan suamiku kesulitan meng-download aplikasi Honestbee karena faktor jaringan. Tapi Alhamdulillah ada salah satu blogger yang bernama Ivo yang menolong kami meminjamkan handphonenya untuk mengakses Honestbee. Kami pun akhirnya berhasil berbelanja online tanpa kendala apapun.

Sejarah Online Shop Honestbee

Mas Tony dari tim Honestbee mengatakan bahwa Honestbee ini adalah jasa layanan belanja online untuk kebutuhan sehari-hari. Honestbee berasal dari Singapura. Diresmikan pengoperasiannya di Indonesia pada 25 Januari 2017 di Jakarta. Honestbee mulai beroperasi di seluruh negara Asia sejak tahun 2015.

Honestbee saat ini ada di Singapura, Hongkong, Taiwan, Jepang, Malaysia, Thailand dan Indonesia.

Sementara di Indonesia Honestbee bekerjasama dengan Transmart dan Carrefour. Honestbee juga adalah layanan pengiriman belanja kebutuhan sehari-hari yang nyaman dan sangat praktis.

Sistem pembayaran Honestbee: Cash On Delivery. Kelebihannya lebih cepat dan lebih mudah, dan waktu belanja lebih hemat.

Cara berbelanjanya, adalah terlebih dahulu men-download aplikasi Honestbee di Play Store, cari dan klik  https://id.honestbee.com. Lalu pilih alamat pengantaran, terus pesan produk yang diinginkan dan pilih jadwal pengantaran sesuai kebutuhan. Jangan lupa, jarak maksimal lokasi belanja yang untuk saat ini, sementara hanya dilayani untuk jarak 10 km dari alamat rumah. Mudah-mudahan ke depannya jaraknya bisa yang lebih jauh lagi. Amin.

Memilih jadwal pengantaran barang, itu juga sangat penting karena jika barang diantar, terus yang empunya belanjaan tidak ada di rumah, lalu siapa dong yang menerima? yang pasti bukan saya kan hehehe. Ayo dicoba deh.

Nah…selesai belanja online bersama Honestbee, saatnya sekarang keliling museum untuk melihat-lihat keindahan batik-batik hasil produksi Indonesia yang tercinta ini.

MUSEUM TEKSTIL JAKARTA, tempat berlangsung acara demo masak bersama Mas Jun (foto Nur Terbit)

MUSEUM TEKSTIL JAKARTA, tempat berlangsung acara demo masak bersama Mas Jun (foto Nur Terbit)

Sejarah Museum Tekstil Jakarta

Menurut penjelasan dari Ibu Misari sebagai Pelaksana Informasi dan Edukasi Museum Tekstil Jakarta, museum ini dibangun akhir abad ke-19, yang semula adalah rumah tinggal warga kebangsaan Perancis. Kemudian dibeli oleh seorang Konsul Turki bernama Abdul Azis Al Mussawi Al Katiri. Selanjutnya tahun 1942 dibeli oleh Dr. Karel Christian Ceuq seorang warga Belanda.

Pada masa perang kemerdekaan tahun 1945, gedung Museum Tekstil dijadikan markas dari Pemuda Barisan Keamanan Rakyat (BKR).

Selanjutnya tahun 1947 dibeli oleh warga China yang bernama Lie Sion Pin. Kemudian akhirnya dibeli oleh Departemen Sosial Republik Indonesia tahun 1952.

Pada tahun 1976 dari semula dimiliki Departemen Sosial, lalu diserahkan kepada Pemda DKI dan dijadikanlah Museum Tekstil Jakarta hingga sekarang ini. Peresmian sebagai museum dilakukan pada tanggal 28 Juni 1976 oleh ibu Tien Soeharto.

Saat ini Museum Tekstil Jakarta di bawah Pengelolaan UP Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Povinsi DKI Jakarta.

Museum ini berada di atas tanah seluas 2.000 m2, dan ada pepohonan yang sangat rindang, yang bisa digunakan sebagai bahan pewarna tekstil.

Harga tiket masuk museum ini terjangkau dan sangat murah. Tiket orang dewasa Rp 5.000, Mahasiswa Rp 3.000,- dan anak-anak Rp 2.000,-. Di dalam museum ini berbagai jenis kain tradisional tersimpan dan dirawat dengan baik di dalam museum ini. Ada 2.350 jenis kain yang terdiri dari 886 batik, 818 kain tenun, 425 koleksi campuran, 70 koleksi peralatan  dan 150 koleksi busana dan tekstil kontemporer.

Kata ibu Ari, nama panggilan dari ibu Misari, bahwa gedung museum ini, terdiri dari 2 gedung yaitu gedung pameran utama dan gedung pameran tidak tetap atau kontemporer.

Di Gedung Batik terdapat berbagai jenis kain batik, kain tenun, peralatan membantik, kain-kain busana yang tidak dibatik atau tidak ditenun. Contohnya Jumputan. Batik-batik ada yang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan lain-lain.

Sungguh sangat mengagumkan. Tapi sayangnya di museum ini kita sebagai pengunjung berkeliling melihat-lihat keindahan dan asal daerah batik-batik ini, tapi yang menjelaskan adalah orang bule yang berasal dari Perancis yang bernama Rina. Lah emang orang Indonesia yang bisa menjelaskan asal batik-batik ini pada ke mana ya?

Setelah berkeliling museum, rasanya perut sudah mulai keroncongan, ternyata memang sudah siang menjelang adzan Dhuhur dikumandangkan. Kami pun dipersilahkan menuju taman di belakang museum.

Di tengah taman terdapat sebuah pendopo yang sudah disiapkan untuk dipakai demo memasak

Di sinilah sahabat kita Mas Jun, atau nama populernya di media sosial Jun Joe Winanto melakukan demo. Beliau selain seorang blogger yang aktif menulis di blog, ternyata juga adalah chief alias “tukang icip-icip”.

Enak banget ya jadi isterinya, gak perlu repot lagi memasak. Sebagai suami, Mas Jun sudah mengambil-alih tugas isterinya hehehe….Untuk mengenal lebih jauh siapa Mas Jun dan aktivitasnya sebagai chief, klik websitenya: www.resepdapurayah.com  

DEMO MASAK -- Menu Ayam Rica-rica racikan Chief Jun Joe Winanto (foto Nur Terbit)

DEMO MASAK — Menu Ayam Rica-rica racikan Chief Jun Joe Winanto (foto Nur Terbit)

Ayam Rica-rica dan Puding Sarikaya

Di saat perut mulai kosong setelah mengikuti acara wisata belanja online dan berkelililng museum, tiba saatnya demo masak sambil ici-icip. Nah…ini acara yang paling heboh di museum ini. Jun telah menyiapkan semua perlengkapan masak dan berikut bumbu-bumbunya. Pertama Mas Jun memasak Ayam Rica-rica, dilanjutkan demo kedua dengan Puding Sarikaya Gula Merah.

Ayam Rica-rica. 

Bahannya:

  • 1 ekor ayam potong yang sudah digoreng setengah matang (tidak terlalu garing)
  • Bumbu yang sudah dihaluskan (kunyit, sereh, jahe, cabe merah, bawang putih, bawang merah, cabe rawit)
  • Jeruk lemon
  • Garam
  • Daun jeruk
  • Jun tidak memakai bumbu penyedap

Proses Pembuatannya:

  • Tumis bumbu yang sudah dihaluskan sampai aroamanya tercium
  • Turunkan ayam yang sudah digoreng setengah matang
  • Tambahkan perasan jeruk lemon 3 iris
  • Turunkan daun jeruk
  • Juga garam

NB: Semua bumbu ukurannya disesuaikan selera.

Puding Sarikaya Gula Merah

bahannya:

  • 400 gram gula merah
  • 10 butir telur ayam dikocok lepas
  • Santan 600 mg
  • Jeruk lemon 2 iris / jeruk nipis (untuk menghilangkan bau amis pada telur)
  • Garam secukupnya (agar rasanya gurih)

Proses Pembuatannya:

  • Telur dikocok lepas dengan memakai sendok
  • Setelah rata tuangkan air gula merah dan santan
  • Tambahkan air jeruk lemon dan garam secukupnya
  • Adonan dituang ke dalam mangkok plastik kecil-kecil
  • Kukus kurang lebih 15 menit dengan api sedang

NB: Jun tidak memakai tambahan gula lagi sehingga manisnya sedang, cocok buat anak usia dini

Nah…inilah hasil reportase Bunda Sitti Rabiah selama berada di Museum Tekstil Jakarta. Tunggu ya tulisan berikutnya.

Untuk info lebih lengkap sekitar acara ini, bisa menyelusuri alamat akun medsos di bawah ini:

email : indonesiakriya@gmail.com,

website : https://id.honestbee.com

blog : https//www.resepdapurayah.com

Museum Tekstil Jakarta:
Jl. Aipda Ks Tubun No.2-4, Tanah Abang, Petamburan, RT.6/RW.1, Kota Bambu Sel., Palmerah, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta 10260. Jam buka09.00–15.00, Telepon: (021) 5606613
Sudut ruangan MUSEUM TEKSTIL JAKARTA (foto Nur Terbit)

Sudut ruangan MUSEUM TEKSTIL JAKARTA (foto Nur Terbit)

Tentang Penulis

Bu Guru Siti

Seorang ibu, juga seorang guru yang berusaha semaksimal mungkin mendedikasikan diri untuk mendidik putera-puteri Indonesia sepenuh hati dan menjaga sepenuh jiwa.

2 Komentar

Berikan sebuah komentar